Duh, ini rupanya kau. Pantas saja Mae,
sahabatku, membencimu. Jelas saja, kau sungguh menjijikan. Kau tau itu?
Datang dengan sendirinya dan membawa
petaka. Aku tahu sahabatku itu sangat kuat. Dia selalu sehat dan tak pernah
sakit. Sampai kau datang berdiam disana dalam waktu yang lama.
Aku juga sedikit sih menyalahkan Mae
karena tak pernah menyadari adanya kau selama ini. Aku suka sebal dengannya
karena terlalu sibuk dengan orang lain dan tak pernah memikirkan dirinya
sendiri.
Dua
hari yang lalu sebelum dia yakin untuk mengeluarkan kau dalam tubuhnya, Mae cerita
panjang tentang kau padaku. Saat itu ia terisak sambil membawa map yang berisi
foto kau. Tak tega aku melihatnya.
Katanya, dia baru saja dari rumah
sakit. Dia masuk keruang CT Scan. Dia sendiri waktu itu. Ditemani ketakutannya,
dia pasrah saja saat diperiksa dokter. Dilayar itu Mae melihat kau. Tadinya ia
ragu, tapi terakhir info dari suster membenarkan adanya kau disana. Bahkan dikeduanya.
Kau sudah besar kata suster dan harus segera dikeluarkan.
Tubuh Mae makin gemetar tak karuan
mengetahui kenyataan itu. Selain itu, dia kebingungan karena untuk mengambil
fotomu saja mahal apalagi mengeluarkanmu dari sana.
Aku meyakinkan Mae untuk segera
mengeluarkan kau dengan paksa. Karena jika diundur kau akan berubah menjadi
ganas dan memakan tubuh Mae pelan-pelan.
